Minggu, 26 Juli 2015

Wisata Kota Tua Jakarta - Museum Wayang


          This is an assignment about video guiding. Explaining about Old City in West Jakarta and one of the museums in it, Wayang's Museum.




Created by: 1SA01

Nanda Jesica (17614799)
Norman Hardoprawiro
Rizky I Nafian
Suheski Fajrin

Senin, 27 April 2015

Papua dan Bali

Berikut akan saya paparkan kelebihan dan kekurangan salah satu tempat wisata di Papua dan Bali.


1. Papua, Raja Ampat

          Indonesia memiliki salah satu destinasi tempat wisata yang sangat bagusuntuk dikunjungi yaitu Kepulauan Raja Ampat. Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.


 


Kelebihan Wisata Raja Ampat
 
             Pulau Raja ampat merupakan rangkaian dari empat gugusan pulau yang berdekatan yang terletak di Papua Barat. Meskipun tak terlalu ramai di kunjungi oleh wisatawan. Namun keindahan nya Raja ampat  tak kalah dengan Pulau dewata. Ternyata pulau ini mempunyai  Kelebihan dari pualu lainnya, antara lain wisatawan yang datang berkunjug ke pulau ini mereka dapat melakukan berbagai macam aktifitas seperti Daiving di  Raja ampat yang merupakan salah satu dari 10 Perairan terbaik untuk diving di dunia. Bahkan  peneliti dari penjuru dunia pun ikut mengakui keindahan raja ampat seperti Tim ahli dariThe Nature Conservancy, dan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) pernah melakukan penelitian tahun 2001 dan 2002.



 Kekurangan Wisata Raja Ampat

          Raja Ampat Masih Kekurangan Pasokan Listrik Salah satu konsekunsi yang secepatnya diadakan untuk mendukung pertumbuhan ecowisata tersebut antara lain, Infrastruktur pendukung seperti pelabuhan laut dan udara, jalan raya, dan infrastruktur energi yang masih minim. Pembangunan untuk melengkapi fasilitas yang ada sedang dilakukan Pemerintah Kabupaten Raja Ampat seperti perluasan bandara, dermaga dan desa-desa wisata terus dipacu pembangunannya. Sama seperti yang lainnya, pembangunan sumber daya manusia juga dilakukan dengan training, diklat dan peningkatan pendidikan formil. Ketersediaan dan pembangunan infrastruktur energi juga harus dilakukan yang tentunya memiliki peran yang sangat vital untuk menggerakan roda perekonomian. Tanpa energy bagaimana mungkin semua kegiatan ekonomi dapat dilaksanakan, karena energy pada saat ini sudah merupakan kebutuhan yang vital.

          Pemerintah Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat, meski telah mengoptimalkan sumber-sumber energy alternatif yang ada, seperti matahari dan air, namun belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan masyarakat Kabupaten Raja Ampat, sehingga masih rutin dilakukan pemadaman. Saat ini seluruh pasokan listrik yang ada di Kabupaten Raja Ampat dipasok dari pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dengan kapasitas 2.500 KVa. Tahun ini, Pemerintah Pusat dan Kementerian ESDM akan mengalokasikan dana APBN mencapai Rp 2,3 triliun untuk melaksanakan program listrik desa (Lisdes) diseluruh wilayah Indonesia yang sebagian diantaranya dialokasikan untuk Provinsi Papua Barat. Di Kabupaten Raja Ampat Program listrik desa yang merupakan penggerak ekonomi pedesaan telah dilaksanakan di Distrik Waigeo Selatan, Misol Utara, Selawati Tengah dan Waigeo Utara.




2. Garuda Wisnu Kencana, Bali

          Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana. Dari namanya, nampak bahwa yang akan dibangun adalah taman dengan monumen Dewa Wisnu yang sedang mengendarai burung Garuda dengan warna keemasan (kencana = emas). Dewa Wisnu sendiri adalah simbol pemelihara alam semesta, sementara burung Garuda adalah perlambang bagi kebebasan, kesetiaan, serta pengabdian tanpa pamrih.
          Rencananya, patung Dewa Wisnu yang mengendarai Garuda tersebut dibangun dengan ketinggian 75 meter, dengan fondasi setinggi 70 meter. Sayap burung Garuda tersebut juga akan membentang selebar 66 meter. Bahan utama pembuatan patung adalah tembaga dan kuningan dengan berat keseluruhan sekitar 4.000 ton. Kelak, jika proyek ini rampung, monumen Garuda Wisnu Kencana akan berdiri setinggi + 145 meter melampaui ketinggian Patung Liberty dan dapat disaksikan dari radius hingga 20 kilometer. Garuda Wisnu Kencana (GWK) ini memang direncanakan menjadi ikon bagi pariwisata Bali.

 


Kelebihan Wisata Garuda Wisnu Kencana

          Taman Budaya GWK terletak di atas bukit kapur setinggi 263 meter di atas permukaan laut (dpl). Dari ketinggian tersebut, ditambah dengan tinggi patung dan pondasinya kelak, maka Monumen Garuda Wisnu Kencana bakal menjadi pesona Pulau Bali yang bisa dilihat dari kejauhan. Di atas ketinggian Bukit Ungasan, Anda juga dapat menyaksikan hamparan Pulau Bali bagian selatan dengan pantai-pantainya yang menghadap Samudera Hindia. Sementara di bagian utara, nampak hilir mudik pesawat di Bandara Ngurah Rai serta pemandangan Kota Denpasar. Menikmati pesona alam di atas Bukit Ungasan ini bakal makin lengkap jika Anda meluangkan waktu untuk menyaksikan matahari terbenam (sunset).
          Melewati jalan setapak menuju Patung Dewa Wisnu, Anda sekali lagi akan dibuat kagum dengan rencana besar perancangnya untuk memahat bukit-bukit kapur menjadi relief epik Mahabarata dan Ramayana. Bukit-bukit kapur tersebut kini telah ‘disulap‘ sedemikian rupa menjadi balok-balok besar, dan beberapa di antaranya sudah mulai dipahat. Tentu saja, karya besar ini bakal turut melambungkan kembali citra Bali sebagai Pulau Dewata di mata dunia. 


Kekurangan Wisata Garuda Wisnu Kencana

          Kekurangan Taman Budaya Garuda Wisnu Kencana ini yaitu banyaknya lahan yang masih kosong sehingga jarak tempat yang ingin dituju terlalu jauh. Kondisi tempat wisata yang belum sepenuhnya rampung membuat wisatawan sulit untuk mencari informasi atau sekedar berkeliling di tempat wisata tersebut.



Nanda Jesica
17614799/1SA01
Sastra Inggris
Universitas Gunadarma 2014 

Sabtu, 28 Maret 2015

Kepariwisataan

Pengertian Kepariwisataan dan Beberapa Contoh Destinasi Pariwisata di Indonesia


Definisi Kepariwisataan

Secara umum, pengertian “pariwisata” adalah suatu perjalanan yang dilakukan oleh seseorang (wisatawan) untuk mengunjungi tempat wisata di daerah objek wisata yang dikunjungi dengan maksud dan tujuan untuk mendapatkan kepuasan dan kesenangan yang bersifat sementara. Namun, dengan berkembangnya Ilmu Pariwisata, Pariwisata bisa memiliki beberapa banyak pengertian dalam pemikiran manusia. Bukan hanya sebagai suatu perjalanan melainkan pariwisata bisa dikatakan sebuah bisnis yang bisa dikelola oleh industri pariwisata.

Pariwisata menurut UU No. 9 Tahun 1990 adalah segala seuatu yang berhubungan dengan wisata termasuk pengusahaan, daya tarik dan atraksi wisata serta usaha-usaha yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata.

Pengertian tersebut meliputi: semua kegiatan yang berhubungan dengan perjalanan wisata, sebelum dan selama dalam perjalanan dan kembali ke tempat asal, pengusahaan daya tarik atau atraksi wisata (pemandangan alam, taman rekreasi, peninggalan sejarah, pagelaran seni budaya). Usaha dan sarana wisata berupa: usaha jasa, biro perjalanan, pramu wisata, usaha sarana, akomodasi dan usaha-usaha lain yang berkaitan dengan pariwisata. 

Di dalam BAB I Ketentuan Umum UU no.10/2009 ditetapkan berbagai ketentuan yang terkait dengan kepariwisataan, di antaranya sebagai berikut:

·        WISATA                   : adalah kegiatan perjalanan yang dilakukan oleh seorang atau sekelompok orang dengan mengunjungi tempat tertentu untuk tujuan rekreasi, pengembangan pribadi, atau mempelajari keunikan daya tarik wisata yang dikunjungi dalam jangka waktu tertentu

·         WISATAWAN         : adalah orang yang melakukan wisata


·       PARIWISATA         : adalah berbagai macam kegiatan wisata dan didukung berbagai fasilitas serta layanan yang disediakan oleh masyarakat, pengusaha, Pemerintah, dan Pemerintah Daerah

·        KEPARIWISATAAN: adalah keseluruhan kegiatan yang terkait dengan pariwisata dan bersifat multidimensi serta multidisiplin yang muncul sebagai wujud kebutuhan setiap orang dan negara serta interaksi antara wisatawan dan masyarakat setempat, sesama wisatawan, Pemerintah, Pemerintah Daerah dan pengusaha.
Bila diuraikan menurut arti-katanya, maka ‘pariwisata’ yang berasalkan kata ‘pari’ dan ‘wisata’ dari bahasa Sansekerta, akan berarti sebagai berikut:

·        Pari: seringkali, berulangkali/berkali-kali; dapat juga berarti ‘umum’ (bandingkan dengan: sidang ‘paripurna’ = sidang umum & lengkap, – umum masalahnya yang dibicarakan dan lengkap anggotanya yang hadir -, bermakna sama dengan “sidang pleno, plenary session/meeting”);

·        Pariwisata: beberapa perjalanan yang dilakukan secara bersambung/ berantai dari satu tempat ke tempat berikutnya dan diakhiri di tempat keberangkatan (=tour, perjalanan keliling);

Kata ‘pariwisata’ telah berhasil dipopulerkan, pada mulanya diperkenalkan oleh Menteri PDPTP (Perhubungan, Pos, Telekomunikasi & Pariwisata), pada waktu ituLet.Jen. Djatikusumo, dalam kesempatan Musyawarah Nasional Tourisme II di Tretes, Jawa Timur, pada tahun 1958.

·        Wisata: pergi (to go, kata kerja), bepergian (to travel, kata kerja); dapat juga berarti ‘perjalanan’ (travel, kata benda);



Sejarah Berkembangnya Pariwisata di Indonesia

Sesungguhnya, Pariwisata berkembang di Indonesia sejak penghujung tahun 1970an. Hal ini disebabkan karena pada tahun itu harga minyak dan gas menurun. Dengan kondisi tersebut, Pemerintah Indonesia mengalami kebingungan karena satusatunya pendapatan Negara (income) adalah minyak bumi dan gas alam tersebut. Maka dengan keadaan tersebut, mereka berpikir untuk mengembangkan Pariwisata di Indonesia pada penghujung tahun 1970an sampai 1980an.
Setelah pemerintah menetapkan keputusan tersebut, tetapi mereka masih bingung karena mereka tidak tahu apa yang bisa dipromosikan dari Pariwisata tersebut. Maka, pemerintah menyewa dan mamanggil beberapa ahli Pariwisata dari PATA (Pacific Area Travel Association) yaitu suatu organisasi yang menangani minat Pariwisata yang berpusat di San Fransisco. Pemerintah menyewa beberapa ahli Pariwisata tersebut untuk melakukan sebuah penelitian di Sumatera Utara. Dari hasil penelitian tersebut, maka para ahli PATA menyimpulkan bahwa di daerah Sumatera Utara terdapat kekayaan Sumber Daya yang bisa dipromosikan sebagai objek Pariwisata yang bisa dijual. Baik itu kekayaan Sumber Daya Alam maupun Kebudayaan dan kehidupan masyarakat setempat. Bukan hanya di daerah Sumatera Utara saja yang mereka teliti, melainkan daerah-daerah lainnya di Indonesia. Maka beberapa ahli PATA tersebut menetapkan 8 Daerah Objek Wisata Original di Indonesia, yaitu sebagai berikut :

Sumatera Barat.Ø Sumatera Utara, Ø Jawa Timur, Ø D.I Yogyakarta, Ø Jawa Tengah, Ø Jawa Barat, Ø DKI Jakarta, Ø Bali.




Beberapa Contoh Destinasi Pariwisata di Indonesia

1.  Danau Toba, Sumatera Utara

 Hasil gambar untuk danau toba

Danau Toba yang terletak di Sumatera Utara ini merupakan salah satu danau vulkanik terindah yang dimiliki Indonesia. Dengan luas yang mencapai 1.145 kilometer persegi, Danau Toba tampak seperti sebuah lautan yang berada di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Selain disebut sebagai danau terluas di Asia Tenggara, danau yang memiliki kedalaman 450 meter ini juga menjadi danau terdalam di dunia.
Di tengah Danau Toba, terdapat sebuah pulau yang bernama Pulau Samosir. Pulau Samosir memiliki dua danau kecil yaitu Danau Aek Natonang dan Danau Sidihoni. Pulau Samosir yang memiliki luas hampir sama dengan luas negara Singapura ini bukanlah pulau kosong, pulau ini menjadi tempat tinggal suku Batak Samosir. Suku Batak yang tinggal d Pulau Samosir masih memegang teguh kepercayaan leluhur. Mereka juga masih menjalankan berbagai ritual yang biasa dilakukan nenek moyang dahulu.


2.      Gili Trawangan, Lombok


Gili Trawangan adalah yang terbesar dari ketiga pulau kecil atau gili yang terdapat di sebelah barat laut Lombok. Trawangan juga satu-satunya gili yang ketinggiannya di atas permukaan laut cukup signifikan. Dengan panjang 3 km dan lebar 2 km, Trawangan berpopulasi sekitar 800 jiwa. Di antara ketiga gili tersebut, Trawangan memiliki fasilitas untuk wisatawan yang paling beragam; kedai "Tîr na Nôg" mengklaim bahwa Trawangan adalah pulau terkecil di dunia yang adabar Irlandia-nya. Bagian paling padat penduduk adalah sebelah timur pulau ini.
Kelebihan Gili Trawangan dibandingkan dengan pantai lain adalah kita dapat menikmati sunset dan juga sunrise sekaligus di pantai ini! Hal ini terjadi karena Gili Trawangan memiliki pantai yang menghadap timur dan menghadap barat, dan jaraknya tidak terlalu jauh. Sehingga baik sunrise maupun sunset dapat kita nikmati di pantai ini.
Di Gili Trawangan juga kita dapat melihat kesenian bela diri tradisional yang bernama presean atau stick fighting yang biasanya dipertontonkan disekitar pasar seni Gili Trawangan.


3.      Kota Lama, Semarang (Little Netherland)

  
Kota Lama Semarang adalah salah satu tempat wisata di Jawa Tengah yang dikenal banyak kalangan penikmat perjalanan. Anda dapat menemukan rekaman tata bangun wilayah berarsitektur Eropa yang ada di tempat ini. Objek wisata di Semarang yang satu ini dijuluki pula sebagai “Little Netherland”. Landmark paling menarik di kawasan Kota Lama adalah Gereja Blenduk, sebuah bangunan berusia lebih dari 2.5 abad. Kata blenduq berasal dari bahasa Jawa, yang berarti kubah, merujuk pada kubah gereja ini. Atapnya yang melengkung dan berwarna merah terasa kontras dengan dindingnya yang bercat putih. Empat pilar kokoh dan menara kembarnya yang khas di bagian depan membentuk ciri khas gereja yang satu ini.
Kota Lama Semarang merupakan destinasi favorit bagi para penikmat sejarah dan pecinta fotografi yang ada di Indonesia. Selain Gereja Blenduk, Kawasan Stasiun Tawang dan Polder Air Tawang adalah landmark lain yang patut Anda kunjungi saat berada di Kota Lama Semarang. Di area Polder, terdapat pabrik rokok Praoe Lajar (Prau Layar) yang masih beroperasi sejak dulu sampai sekarang. Menikmati suasana di Kota Lama Semarang pada malam hari adalah salah satu cara terbaik di tempat ini.

4.      Kawah Ijen, Banyuwangi


Kawah Ijen adalah kawah danau terbesar di pulau Jawa. Pesona tempat wisata diJawa Timur yang satu ini adalah pada danau belerang yang berwarna tosca dan api biru (blue fire). Anda dapat menyaksikan panorama memikat ini pada saat malam hari hingga menjelang subuh.


5.      Raja Ampat, Papua


Kepulauan Raja Ampat merupakan rangkaian empat gugusan pulau yang berdekatan dan berlokasi di barat bagian Kepala Burung (Vogelkoop) Pulau Papua. Secara administrasi, gugusan ini berada di bawah Kabupaten Raja Ampat, Provinsi Papua Barat. Kepulauan ini sekarang menjadi tujuan para penyelam yang tertarik akan keindahan pemandangan bawah lautnya. Empat gugusan pulau yang menjadi anggotanya dinamakan menurut empat pulau terbesarnya, yaitu Pulau Waigeo, Pulau Misool, Pulau Salawati, dan Pulau Batanta.
Kepulauan Raja Ampat merupakan tempat yang sangat berpotensi untuk dijadikan sebagai objek wisata, terutama wisata penyelaman. Perairan Kepulauan Raja Ampat menurut berbagai sumber, merupakan salah satu dari 10 perairan terbaik untuk diving site di seluruh dunia. Bahkan, mungkin juga diakui sebagai nomor satu untuk kelengkapan flora dan fauna bawah air pada saat ini.





Nanda Jesica
17614799
1SA01
Sastra Inggris
Universitas Gunadarma, 2015.

Rabu, 28 Januari 2015

Drugs Campaign Video

This video is an assignment purpose only, but also to inspire the youth not to do drugs, hope this video will help :) 


 

Created by:

1SA01
  • Nanda Jesica (17614799)
  • Rizky Ilman Nafian
  • Alma Talitha G
  • Denanti Bella
  • Firnia Adianti
  • Norman Hardjoprawiro

Jumat, 16 Januari 2015

Basic Persuasion Techniques

40 Basic Advertisement Persuasion Techniques


1. Association

        This persuasion technique tires to link a product, service, or idea with something already liked or desired by the target audience, such as fun, pleasure, beauty, security, intimacy, success, wealth, etc.




 
  





2. Bandwagon

        Many ads show lots of people using the product, implying that "everyone is doing it" (or at least, "all the cool people are doing it"). No one likes to be left out or left behind, and these ads urge us to "jump on the bandwagon, politicians use the same technique.









3. Beautiful people
        Beatiful people uses good looking models (who may also be celebrities) to attract our attention. This technique is extremely common in ads, which may also imply (but never promise!) that we'll look like the models if we use the product.

 





4. Bribery

        This technique tries to persuade us to buy a product by promising to give us something else, like a discount, a rebate, a coupon, or a "free gift." Sales, special offers, contest,  and sweepstakes are all forms of bribery. Unfornately, we don't really get something for free.
 
 








5. Celebrities
        
        (A type of Testimonial – the opposite of Plain folks.) We tend to pay attention to famous people. That’s why they’re famous! Ads often use celebrities to grab our attention. By appearing in an ad, celebrities implicitly endorse a product; sometimes the endorsement is explicit. Many people know that companies pay celebrities a lot of money to appear in their ads (Nike’s huge contracts with leading athletes, for example, are well known) but this type of testimonial still seems to be effective.


 






6. Experts

        (A type of Testimonial.) We rely on experts to advise us about things that we don’t know ourselves. Scientists, doctors, professors and other professionals often appear in ads and advocacy messages, lending their credibility to the product, service, or idea being sold. Sometimes, “plain folks” can also be experts, as when a mother endorses a brand of baby powder or a construction worker endorses a treatment for sore muscles. 


 



 

7. Explicit claims

        Something is "explicit" if it is directly, fully, and/or clearly expressed or demonstrated. For example, some ads state the price of a product, the main ingredients, where it was made, or the number of items in the package – these are explicit claims. So are specific, measurable promises about quality, effectiveness, or reliability, like “Works in only five minutes!” Explicit claims can be proven true or false through close examination or testing, and if they’re false, the advertiser can get in trouble. It can be surprising to learn how few ads make explicit claims. Most of them try to persuade us in ways that cannot be proved or disproved.


 






8. Fear 

       This is the opposite of the Association technique. It uses something disliked or feared by the intended audience (like bad breath, failure, high taxes or terrorism) to promote a "solution.” Ads use fear to sell us products that claim to prevent or fix the problem. Politicians and advocacy groups stoke our fears to get elected or to gain support.








9. Humor

        Many ads use humor because it grabs our attention and it’s a powerful persuasion technique. When we laugh, we feel good. Advertisers make us laugh and then show us their product or logo because they’re trying to connect that good feeling to their product. They hope that when we see their product in a store, we’ll subtly re-experience that good feeling and select their product. Advocacy messages (and news) rarely use humor because it can undermine their credibility; an exception is political satire.









10. Intensity

        The language of ads is full of intensifiers, including superlatives (greatest, best, most, fastest, lowest prices), comparatives (more, better than, improved, increased, fewer calories), hyperbole (amazing, incredible, forever), exaggeration, and many other ways to hype the product. 

 






11. Maybe

        Unproven, exaggerated or outrageous claims are commonly preceded by "weasel words" such as may, might, can, could, some, many, often, virtually, as many as, or up to. Watch for these words if an offer seems too good to be true. Commonly, the Intensity and Maybe techniques are used together, making the whole thing meaningless.


 




12. Plain folks 

        (A type of Testimonial – the opposite of Celebrities.) This technique works because we may believe a "regular person" more than an intellectual or a highly-paid celebrity. It’s often used to sell everyday products like laundry detergent because we can more easily see ourselves using the product, too. The Plain folks technique strengthens the down-home, "authentic" image of products like pickup trucks and politicians. Unfortunately, most of the "plain folks" in ads are actually paid actors carefully selected because they look like "regular people.” 




 


13. Repetition

        Advertisers use repetition in two ways: Within an ad or advocacy message, words,
sounds or images may be repeated to reinforce the main point. And the message itself (a TV commercial, a billboard, a website banner ad) may be displayed many times. Even unpleasant ads and political slogans work if they are repeated enough to pound their message into our minds.
 







14. Testimonials

        Media messages often show people testifying about the value or quality of a
product, or endorsing an idea. They can be experts, celebrities, or plain folks. We tend to believe them because they appear to be a neutral third party (a pop star, for example, not the lipstick maker, or a community member instead of the politician running for office.) This technique works best when it seems like the person “testifying” is doing so because they genuinely like the product or agree with the idea. Some testimonials may be less effective when we recognize that the person is getting paid to endorse the product. 

 



 


15.  Warm & fuzzy

        This technique uses sentimental images (especially of families, kids and
animals) to stimulate feelings of pleasure, comfort, and delight. It may also include the use of
soothing music, pleasant voices, and evocative words like "cozy" or "cuddly.” The Warm & fuzzy technique is another form of Association. It works well with some audiences, but not with others, who may find it too corny.

 






16. The Big Lie

        According to Adolf Hitler, one of the 20th century’s most dangerous
propagandists, people are more suspicious of a small lie than a big one. The Big Lie is more than exaggeration or hype; it’s telling a complete falsehood with such confidence and charisma that people believe it. Recognizing The Big Lie requires "thinking outside the box" of conventional wisdom and asking the questions other people don’t ask.



 






17. Charisma

        Sometimes, persuaders can be effective simply by appearing firm, bold, strong, and confident. This is particularly true in political and advocacy messages. People often follow charismatic leaders even when they disagree with their positions on issues that affect them.







18. Euphemism

        While the Glittering generalitiesand Name-callingtechniques arouse audiences with vivid, emotionally suggestive words, Euphemismtries to pacify audiences in order to make an unpleasant reality more palatable. Bland or abstract terms are used instead of clearer, more graphic words. Thus, we hear about corporate “downsizing” instead of “layoffs,” or “enhanced interrogation techniques” instead of “torture.”



19. Extrapolation 

        Persuaders sometimes draw huge conclusions on the basis of a few small facts. Extrapolationworks by ignoring complexity. It’s most persuasive when it predicts something we hope can or will be true.






 20. Flattery 

        Persuaders love to flatter us. Politicians and advertisers sometimes speak directly to us: “You know a good deal when you see one.” “You expect quality.” “You work hard for a living.” “You deserve it.” Sometimes ads flatter us by showing people doing stupid things, so that we’ll feel smarter or superior. Flattery works because we like to be praised and we tend to believe people we like. (We’re sure that someone as brilliant as you will easily understand this technique!)






21. Glittering generalities 

        This is the use of so-called "virtue words" such as civilization, democracy, freedom, patriotism, motherhood, fatherhood, science, health, beauty, and love. Persuaders use these words in the hope that we will approve and accept their statements without examining the evidence. They hope that few people will ask whether it’s appropriate to invoke these concepts, while even fewer will ask what these concepts really mean.








22. Name-calling 

        This technique links a person or idea to a negative symbol (liar, creep, gossip, etc.). It’s the opposite of Glittering generalities. Persuaders use Name-calling to make us reject the person or the idea on the basis of the negative symbol, instead of looking at the available evidence. A subtler version of this technique is to use adjectives with negative connotations (extreme, passive, lazy, pushy, etc.)


  
 



23. New

        We love new things and new ideas, because we tend to believe they’re better than old things and old ideas. That’s because the dominant culture in the United States (and many other countries) places great faith in technology and progress.






24. Nostalgia

       This is the opposite of the New technique. Many advertisers invoke a time when life was simpler and quality was supposedly better ("like Mom used to make"). Politicians promise to bring back the "good old days" and restore "tradition." But whose traditions are being restored? Who did they benefit, and who did they harm? This technique works because people tend to forget the bad parts of the past, and remember the good.
  






25. Rhetorical questions 

         These are questions designed to get us to agree with the speaker. They are set up so that the “correct” answer is obvious. ("Do you want to get out of debt?" "Do you want quick relief from headache pain?" and "Should we leave our nation vulnerable to terrorist attacks?" are all rhetorical questions.)





26. Scientific evidence

        This is a particular application of the Expert technique. It uses the paraphernalia of science (charts, graphs, statistics, lab coats, etc.) to "prove" something. It often works because many people trust science and scientists. It’s important to look closely at the "evidence," however, because it can be misleading.


 


27. Simple solution
        Life is complicated. People are complex. Problems often have many causes, and they’re not easy to solve. These realities create anxiety for many of us. Persuaders offer relief by ignoring complexity and proposing a Simple solution. Politicians claim one policy change (lower taxes, a new law, a government program) will solve big social problems. Advertisers take this strategy even further, suggesting that a deodorant, a car, or a brand of beer will make you beautiful, popular and successful.




28. Slippery slope
         This technique combines Extrapolation and Fear. Instead of predicting a positive future, it warns against a negative outcome. It argues against an idea by claiming it’s just the first step down a “slippery slope” toward something the target audience opposes. ("If we let them ban smoking in restaurants because it’s unhealthy, eventually they’ll ban fast food, too." This argument ignores the merits of banning smoking in restaurants.) The Slippery slope technique is commonly used in political debate, because it’s easy to claim that a small step will lead to a result most people won’t like, even though small steps can lead in many directions.

 


29. Symbols
         Symbols are words or images that bring to mind some larger concept, usually one with strong emotional content, such as home, family, nation, religion, gender, or lifestyle. Persuaders use the power and intensity of symbols to make their case. But symbols can have different meanings for different people. Hummer SUVs are status symbols for some people, while to others they are symbols of environmental irresponsibility. 





30. Ad hominem

        Latin for "against the man," the ad hominem technique responds to an argument by attacking the opponent instead of addressing the argument itself. It’s also called "attacking the messenger.” It works on the belief that if there’s something wrong or objectionable about the messenger, the message must also be wrong.



31. Analogy
        An analogy compares one situation with another. A good analogy, where the situations are reasonably similar, can aid decision-making. A weak analogy may not be persuasive, unless it uses emotionally-charged images that obscure the illogical or unfair comparison. 
 
32. Card stacking
         No one can tell the whole story; we all tell part of the story. Card stacking, however, deliberately provides a false context to give a misleading impression. It "stacks the deck," selecting only favorable evidence to lead the audience to the desired conclusion.





33. Cause vs. Correlation 

         While understanding true causes and true effects is important, persuaders can fool us by intentionally confusing correlation with cause. For example: Babies drink milk. Babies cry. Therefore, drinking milk makes babies cry.




34. Denial

        This technique is used to escape responsibility for something that is unpopular or controversial. It can be either direct or indirect. A politician who says, "I won’t bring up my opponent’s marital problems," has just brought up the issue without sounding mean. 


 

35. Diversion 

         This technique diverts our attention from a problem or issue by raising a separate issue, usually one where the persuader has a better chance of convincing us. Diversion is often used to hide the part of the story not being told. It is also known as a “red herring.” 

 






36. Group dynamics 
         We are greatly influenced by what other people think and do. We can get carried away by the potent atmosphere of live audiences, rallies, or other gatherings. Group dynamics is a more intense version of the Majority belief and Bandwagon techniques.



37. Majority belief
        This technique is similar to the Bandwagon technique. It works on the assumption that if most people believe something, it must be true. That’s why polls and survey results are so often used to back up an argument, even though pollsters will admit that responses vary widely depending on how one asks the question.

 

  38. Scapegoating 

        Extremely powerful and very common in political speech, Scapegoating blames a problem on one person, group, race, religion, etc. Some people, for example, claim that undocumented (“illegal”) immigrants are the main cause of unemployment in the United States, even though unemployment is a complex problem with many causes. Scapegoating is a particularly dangerous form of the Simple solution technique.






39. Straw man

         This technique builds up an illogical or deliberately damaged idea and presents it as something that one’s opponent supports or represents. Knocking down the "straw man" is easier than confronting the opponent directly.
 

 




40. Timing

        Sometimes a media message is persuasive not because of what it says, but because of when it’s delivered. This can be as simple as placing ads for flowers and candy just before Valentine’s Day, or delivering a political speech right after a major news event. Sophisticated ad campaigns commonly roll out carefully-timed phases to grab our attention, stimulate desire, and generate a response.